Latar Belakang
Zaman kita adalah zaman berkemajuan. Tapi, pada saat yang sama, inilah zaman kegalauan. Jangankan bagi orang yang hidupnya susah secara ekonomi, bahkan bagi orang-orang yang hidupnya berkecukupan, tekanan hidup makin berat. Tuntutan kebutuhan artifisial yang terus muncul, beban pekerjaan yang over-whelming, lingkungan hidup yang kurang bersahabat dan lain-lain.
Kebutuhan-kebutuhan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya diharap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehausan psikologis dan spiritual. Karena hanya menegaskan kenyataan bahwa—setelah semua keberlimpahan itu tercapai—kebahagiaan hidup tak dapat ditemukan di situ. Kritis ini menjadi makin kuat dengan adanya information spill-over (peluberan informasi) sebagai konsekuensi makin digdayanya teknologi informasi yang merupakan pilar era informasi dan globalisasi.
Tak seperti dulu, para pemeluk agama tak bisa lagi mengisolasi diri dari banjir informasi yang mengancam kepercayaannya. Di internet, dan media sosial menenggelamkan manusia dengan informasi yang menghancurkan orang bagai tsunami. Kesemuanya ini berkontribusi kepada lahirnya perasaan teralienasi yang cenderung melahirkan masyarakat yang depressed. Banyak juga yang ujung-ujungnya merujuk pada kekerasan.
Tapi, pada saat yang sama, menjamin ketentraman hidup batiniah, janji kesenangan dunia-akhirat yang ditawarkannya. Akibatnya, ada kecenderungan yang makin kuat kepada penafsiran keagamaan serba hukum yang sempit, tertutup, dan intoleran terhadap perbedaan. Maka, menjadi tugas kita bersama, untuk menawarkan suatu pemahaman keagamaan yang mampu menjadi penyeimbang pemahaman seperti itu. Dalam konteks ini kiranya tasawuf dapat menjadi alternatif yang efektif.
Profil Nuralwala
Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Nuralwala (Markaz Nural-Wala Lid-Dirasat al-Akhlaqiyyah wa at-Tasawwuf) adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, keagamaan, dan sosial. Di bidang pendidikan, Yayasan ini berupaya mengenalkan tasawuf sebagai dimensi esoteris Islam, dan tasawuf mungkin mempromosikan visi Islam yang berorientasi cinta-kasih, sebagai alternatif cara pandang keislaman yang selaras dengan budaya Indonesia yang beragama.
Melalui SK Yayasan Nomor AHU-0012066.AH.01.04.Tahun 2020, Nuralwala telah mendapat pengesahan secara legal dari Pemerintah Indonesia. Meski demikian, program kerja Nuralwala sesungguhnya telah bergulir sejak 2018, dan alhamdulillah mendapatkan animo yang sangat tinggi dari masyarakat. (Report kinerja infografis terlampir).
Pada dasarnya, program edukasi tasawuf yang diselenggarakan oleh Nuralwala tidak semata bersifat daring (online), melainkan juga luring (offline). Dengan demikian, sistem penyelenggaraan pendidikan tasawuf ini sesungguhnya bersifat blended (kombinasi di antara keduanya).
Dengan kata lain, selain akan ada program-program live streaming, juga akan diadakan pertemuan-pertemuan tatap muka, baik secara reguler maupun insidental berdasar keperluannya. Nuralwala juga akan menyelenggarakan penelitian dan pertemuan-pertemuan ilmiah seperti diskusi, seminar, konferensi, dan lain sebagainya. Nama Nuralwala adalah pengubahan dari sebuah frasa Nur'a Nar al-Wala, yang bermakna "Kasih yang Terbakar dalam Api Cinta"—sebuah gelar kehormatan yang disematkan oleh Al-Hujwiri (w. 465 H/1072 M) dalam Kitab Tasawuf klasiknya, Kasyf al-Mahjub, kepada Imam Ali bin Abi Thalib karrama Allahu wajhah, sosok yang kepadanya bermuara seluruh aliran tasawuf di dalam Islam. Dari situ, kami pun berinisiatif memilih kata "Nur" (yang bermakna cahaya) untuk menggantikan kata "Nar" (yang bermakna api).
Visi
Menjadi rujukan bagi masyarakat Muslim Indonesia dalam hal kajian, pemahaman, dan praktik keislaman yang menekankan pada spiritualitas, akhlak mulia dan amal saleh, serta bersifat rasional, damai, dan damai.
Misi
Menjadi pusat riset dan pengembangan kajian tasawuf/ilmu-ilmu Islam yang selaras dengan konteks keindonesiaan, dan hadir sebagai pilar keilmuan yang secara proaktif-transformatif, berwawasan luas dan terbuka, serta menghargai budaya dan estetika.
Program Nuralwala
- Kajian/kursus tasawuf yang berbasis sanad transmisi otentik, melalui penyelenggaraan: (a) sekolah (Master/ngaji), (b) online learning (webinar, podcast, konten-konten Islami via Youtube dan akun-akun media sosial lainnya), dan (c) offline learning (shortcourse, pengajian berkala, dan dakwah publik milenial di bawah platform Nuralwala Festival).
- Mendirikan Rumah Anak dan balai bagi anak yatim.
- Membangun pusat konsultasi keagamaan bagi masyarakat luas.
- Membangun pusat Aksi Ilmu-ilmu keislaman dan sosial.
- Menyediakan buku dan referensi Islam, khususnya di bidang tasawuf, dengan: (a) mendirikan perpustakaan yang dapat diakses oleh publik, dan (b) menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku akhlak dan tasawuf yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
- Membangun komunitas dan forum silaturahmi antar da'i-da'i Muslim yang memprioritaskan visi Islam cinta-kasih.
- Membentuk PT di bidang tours travel, yang akan menjadi alternatif bagi penyelenggaraan program Ziarah Sufi—sebuah kegiatan napak tilas ke makam tokoh-tokoh Islam, baik internasional maupun lokal, yang bukan sekadar sebagai sarana riset psikologis, tapi terutama sebagai wadah untuk menimba ajaran-ajaran dari tokoh-tokoh terkait. Program ini disiapkan dengan silabus yang matang, dan dibimbing langsung oleh tokoh-tokoh yang memiliki integritas dan otoritas keilmuan di bidang Islam.
Profil Dewan Pembina
Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, Ph.D
Dewan Pembina dan Imam Besar Masjid Istiqlal Dewan Pembina Nuralwala
Prof. Dr. Alwi Shihab, MA
Dewan Pembina Nuralwala dan Cendekiawan Muslim Indonesia
Dr. Haidar Bagir
Pengasuh dan Dewan Pembina Nuralwala
K.H. Husein Muhammad
Dewan Pembina Nuralwala Kol. Penulis dan Ketua Puan Amal Institute